"Informasi dan Tekhnologi sangat membantu kami dalam berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Jadi hampir tidak ada duka yang terasa selama bertugas di Lebanon,"
Laporan : Mahatir Mahbub
Pelabuhan Soekarno Hatta
Kata itulah yang terucap dari bibir, Komandan Satgas Konga XXIII-B/Unifil Letkol Inf AM Putranto, di sela-sela persiapan penerimaan kembalinya Pasukan Garuda Indonesia dari kesatuan Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) Brigif 3/TBS, Kariango. Kembalinya 356 Pasukan Garuda Indonesia, diterima langsung oleh Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Djoko Susilo Utomo dan Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Sulselbar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Sisno Adiwinoto.
Informasinya, 356 Pasukan Garuda yang tergabung dalam 1136 Pasukan Garuda se Indonesia tersebut, tiba di
Indonesia tanggal 10 Desember. Kemudian mereka mempersiapkan diri di Jakarta untuk kembali ke Makassar,
dengan menggunakan kapal KRI Surabaya.
Kata AM Putranto, kapal KRI Surabaya yang digunakannya hingga tiba di Makassar, merupakan kapal terbaik yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) sekarang ini. Pasalnya, menurut Putranto, di dalam kapal tersebut ada ruangan khusus yang dipersiapkan untuk Presiden Republik Indonesia (RI), dan tamu kenegaraan.
"Pokoknya di dalam kapal itu semua fasilitas bagus. Mulai dari ruangan pasukan hingga ruangan Presiden dan tamu kepresidenan," ungkap Putranto.
Terlepas dari itu, Putranto mengungkapkan sebagian kegiatan Pasukan Garuda lndonesia selama di Lebanon. Di Lebanon, Putranto membeberkan kegiatan pasukannya yakni, membantu anak-anak dalam pendidikan bahasa, Infomasi dan Tekhnologi (IT) hingga kebudayaan bangsa Indonesia. Selain itu, tetap pada tugas utama yakni, menjaga keamanan negara.
"Masyarakat Lebanon, sangat suka dengan kebudayaan bangsa kita. Terutama dalam lagu dan tari-tariannya yang kerap kami bawakan, dalam waktu-waktu santai. Keakraban masyarakat Lebanon membuat kami terus merindukan keluarga yang ada di Indonesia. Namun, itu semua bisa teratasi dengan semakin meningkatnya tekhnologi dunia," kata Putranto.
Menjadi Pasukan Garuda merupakan suatu impian terbesar bagi setiap anggota TNI. Kenapa, terang Putranto, untuk menjadi Pasukan Garuda sangatlah berat. Apalagi membawa nama kesatuan di setiap wilayah kesatuan, seperti kesatuan Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) Brigif 3/TBS, Kariango Sulsel.
Sesuai pernyataan Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana, Mayor Jenderal Djoko Susilo Utomo, yang ditemui di Pelabuhan Makassar yakni, Pasukan Garuda Indonesia adalah pasukan yang terseleksi. Mereka diseleksi selama Tiga bulan di Bandung, dengan jumlah pasukan yang mengikuti seleksi sekira 2000 pasukan dari berbagai kesatuan.
Di Lebanon, Pasukan Garuda Indonesia didampingi pasukan militer dari 29 negara dunia. Yang memiliki tugas serupa yakni, menjaga kestabilan negara Lebanon, membantu anak-anak korban perang hingga mendirikan penampungan, yang selain digunakan untuk tempat tinggal, juga digunakan sebagai sekolah dan rumah sakit.
Pokonya terang, Putranto yang memiliki tubuh tegap ini, Pasukan Garuda adalah pasukan terbaik yang dimiliki oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan utamanya bangsa Indonesia. (http//fatircrime.blogspot.com)
Senin, 15 Desember 2008
KBIH Nakal Kerap Jadi Biang
Laporan : Tim Investigasi Fajar
MAKASSAR--Maraknya kasus pembatalan pemberangkatan jemaah haji di Sulawesi Selatan bukan hanya disebabkan biro haji yang tidak bertanggung jawab. Keberadaan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) nakal ternyata juga kerap menjadi biang masalah.
Bagaimana tidak, KBIH yang seyogyanya mengurus haji dalam hal ibadah, malah kerap ditemukan lebih dominan bisnisnya.Inilah yang jadi persoalan, sebab sejauh ini, izin KBIH diterbitkan sendiri Departemen Agama.Yang lebih parah lagi, KBIH nakal kerap melakukan praktik ilegal dan mengorbankan jemaah.
Salah seorang mantan ketua keloter 33 yang berangkat 2005 lalu, Ustaz Fatahuddin ditemui di rumahnya membeberkan, saat itu, ada KBIH yang ikut dalam rombongan 9. KBIH yang dia rahasiakan namanya itu mendaftar selaku jemaah.Persoalan kemudian muncul ketika jemaah sudah di Mekah. Jemaah meributkan dam-nya.
"Jemaah protes karena sudah bayar dam tapi tidak menyembelih. Padahal uang dam itu sudah diserahkan ke KBIH di Sudiang. KBIH coba mengarahkan jemaah untuk ifra saja sehingga dam bisa diambil. Ini jelas pembodohan. Makanya saat itu, selaku ketua kloter saya minta uang jemaah dikembalikan," beber Fatahuddin di rumahnya di BTP Blok AE No.537.
KBIH nakal juga memiliki jaringan luas. Bahkan hampir di setiap provinsi. Mereka juga kenal dengan orang-orang Depag. Makanya, untuk pindah pemberangkatan ke provinsi lain, itu bukan hal sulit. Jemaah cukup membayar tambahan uang Rp 10 juta, mereka langsung bisa diberangkatkan.
"Ada satu kasus di sini dulu. Salah seorang jemaah harus antre karena kuota terbatas. Tapi ia tiba-tiba berangkat melalui Gorontalo. Ternyata ia menambah pembayaran Rp 10 juta," bebernya.
Tapi itu cuma beruntung saja. Lihat saja kasus jemaah Wajo di Lampung yang batal berangkat. Itu juga ulah KBIH.
Menurut Fatahuddin yang begitu bersemangat bercerita ke Fajar, keberadaan KBIH ini bisa mengacaukan pengelolaan haji. Apalagi selama ini Depag juga seolah melakukan pembiaran dan malah sebaliknya bekerjasama.
KBIH menurutnya memang mendapat perlakuan istimewa dari Depag. Jika aturan naik haji ulang hanya bisa dilakukan setelah lima tahun, hal itu malah tak berlaku bagi KBIH. Setiap tahun, KBIH bisa naik. Jadi jatah yang seharusnya milik warga yang memang belum pernah naik haji akhirnya hilang. Muncullah antrean-antrean.
"Apalagi jumlahnya banyak sekali. Ini juga rancunya. Kenapa harus ada KBIH yang naik setiap tahun sedangkan sudah ada ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu. Jadinya kan ada dualisme di Mekah. Yang bingung jemaah sendiri," kata Fatahuddin.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi menurut Fatahuddin yakni adanya KBIH yang begitu gampang memberangkatkan jemaah. Mereka membayarkan ONH jemaah dengan hanya meminta sertifikat tanah atau bangunannya. "Yang memang mau sekali naik haji, itulah yang kerap tertipu. Mereka hanya mengejar gelar haji semata," keluh pembimbing haji dari Konsorsium Lailahaillallah Mappanyukki ini.
Bagaimana tanggapan Depag? Kepala Staf Urusan Haji Makassar, Drs H Abdul Wahid SH MH mengatakan, setiap tahunnya, Depag memang mengakomodir KBIH untuk berangkat ke Mekah. Malah kata dia, tahun ini, untuk Makassar, ada sembilan KBIH berangkat.
"Mereka itu memang terdaftar sebagai jemaah. Jumlahnya setiap tahun tidak tetap. Tapi memang tahun ini agak banyak. Itu sesuai porsi masuknya. Kalau porsinya masuk ya berangkat. Kalau tidak biasanya jemaah mereka dimerger ke KBIH lainnya," kata Wahid.
Untuk Makassar, menurut Wahid, ada 21 KBIH. KBIH tersebut antara lain; Al Ikhlas, Masjid Raya, Kodam, Polda, Harapan Mabrur, Darussalam, Annadwa, serta Yayasan Persaudaraan Haji Indonesia.
MAKASSAR--Maraknya kasus pembatalan pemberangkatan jemaah haji di Sulawesi Selatan bukan hanya disebabkan biro haji yang tidak bertanggung jawab. Keberadaan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) nakal ternyata juga kerap menjadi biang masalah.
Bagaimana tidak, KBIH yang seyogyanya mengurus haji dalam hal ibadah, malah kerap ditemukan lebih dominan bisnisnya.Inilah yang jadi persoalan, sebab sejauh ini, izin KBIH diterbitkan sendiri Departemen Agama.Yang lebih parah lagi, KBIH nakal kerap melakukan praktik ilegal dan mengorbankan jemaah.
Salah seorang mantan ketua keloter 33 yang berangkat 2005 lalu, Ustaz Fatahuddin ditemui di rumahnya membeberkan, saat itu, ada KBIH yang ikut dalam rombongan 9. KBIH yang dia rahasiakan namanya itu mendaftar selaku jemaah.Persoalan kemudian muncul ketika jemaah sudah di Mekah. Jemaah meributkan dam-nya.
"Jemaah protes karena sudah bayar dam tapi tidak menyembelih. Padahal uang dam itu sudah diserahkan ke KBIH di Sudiang. KBIH coba mengarahkan jemaah untuk ifra saja sehingga dam bisa diambil. Ini jelas pembodohan. Makanya saat itu, selaku ketua kloter saya minta uang jemaah dikembalikan," beber Fatahuddin di rumahnya di BTP Blok AE No.537.
KBIH nakal juga memiliki jaringan luas. Bahkan hampir di setiap provinsi. Mereka juga kenal dengan orang-orang Depag. Makanya, untuk pindah pemberangkatan ke provinsi lain, itu bukan hal sulit. Jemaah cukup membayar tambahan uang Rp 10 juta, mereka langsung bisa diberangkatkan.
"Ada satu kasus di sini dulu. Salah seorang jemaah harus antre karena kuota terbatas. Tapi ia tiba-tiba berangkat melalui Gorontalo. Ternyata ia menambah pembayaran Rp 10 juta," bebernya.
Tapi itu cuma beruntung saja. Lihat saja kasus jemaah Wajo di Lampung yang batal berangkat. Itu juga ulah KBIH.
Menurut Fatahuddin yang begitu bersemangat bercerita ke Fajar, keberadaan KBIH ini bisa mengacaukan pengelolaan haji. Apalagi selama ini Depag juga seolah melakukan pembiaran dan malah sebaliknya bekerjasama.
KBIH menurutnya memang mendapat perlakuan istimewa dari Depag. Jika aturan naik haji ulang hanya bisa dilakukan setelah lima tahun, hal itu malah tak berlaku bagi KBIH. Setiap tahun, KBIH bisa naik. Jadi jatah yang seharusnya milik warga yang memang belum pernah naik haji akhirnya hilang. Muncullah antrean-antrean.
"Apalagi jumlahnya banyak sekali. Ini juga rancunya. Kenapa harus ada KBIH yang naik setiap tahun sedangkan sudah ada ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu. Jadinya kan ada dualisme di Mekah. Yang bingung jemaah sendiri," kata Fatahuddin.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi menurut Fatahuddin yakni adanya KBIH yang begitu gampang memberangkatkan jemaah. Mereka membayarkan ONH jemaah dengan hanya meminta sertifikat tanah atau bangunannya. "Yang memang mau sekali naik haji, itulah yang kerap tertipu. Mereka hanya mengejar gelar haji semata," keluh pembimbing haji dari Konsorsium Lailahaillallah Mappanyukki ini.
Bagaimana tanggapan Depag? Kepala Staf Urusan Haji Makassar, Drs H Abdul Wahid SH MH mengatakan, setiap tahunnya, Depag memang mengakomodir KBIH untuk berangkat ke Mekah. Malah kata dia, tahun ini, untuk Makassar, ada sembilan KBIH berangkat.
"Mereka itu memang terdaftar sebagai jemaah. Jumlahnya setiap tahun tidak tetap. Tapi memang tahun ini agak banyak. Itu sesuai porsi masuknya. Kalau porsinya masuk ya berangkat. Kalau tidak biasanya jemaah mereka dimerger ke KBIH lainnya," kata Wahid.
Untuk Makassar, menurut Wahid, ada 21 KBIH. KBIH tersebut antara lain; Al Ikhlas, Masjid Raya, Kodam, Polda, Harapan Mabrur, Darussalam, Annadwa, serta Yayasan Persaudaraan Haji Indonesia.
Penyidik Polwiltabes Ke Bone, Periksa 16 JCH
Laporan : Mahatir Mahbub
MAKASSAR -- Pihak Polwiltabes Makassar terus berupaya menuntaskan kasus penipuan 62 jamaah calon haji (JCH) asal Sulsel. Setelah melimpahkan berita acara pemeriksaan tersangka utama Fahrur Rozy. Kini tim penyidik Polwiltabes Makassar dalam hal ini Kanit IDIK II Polwiltabes Makassar, AKP Syaiful Alam beranjak ke Bone guna memeriksa 16 JCH yang gagal berangkat.
Informasi yang dihimpun Fajar di Polwiltabes Makassar, Sabtu 13 Desember, Kanit IDIK II Polwiltabes Makassar tersebut berangkat ke kabupaten Bone, didampingi Tiga orang anggotanya, serta Fathu Rahman Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, yang sebelumnya telah dinyatakan tersangka, namun belum ada penahanan.
Penangguhan penahanan terhadap Fathu Rahman dan istrinya Kifayah Rahman, diketahui atas pertimbangan Kepala Satuan Reserse kriminal (Kasat Reskrim) Polwiltabes Makassar, AKBP Rudi Herususanto, yang melihat keduanya kooperatif dalam memenuhi panggilan kepolisian, serta tidak melihat adanya itikad keduanya untuk menipu 62 JCH hingga gagal berangkat beribadah.
Selain itu, penangguhan penahanan keduanya didukung oleh sejumlah barang bukti, yang diperlihatkan Fathu ke tim penyidik Polwiltabes Makassar, seperti bukti transfer uang JCH atas nama Fahrur Rozy dan bukti pengembalian uang sejumlah JCH.
Kasat Reskrim Polwiltabes Makassar, Rudi Herususanto melihat, kegagalan JCH berangkat beribadah haji lebih kepada penggelapan dana haji yang dilakukan oleh tersangka Fahrur Rozy. Sedangkan status Fathu Rahman sendiri, hanya sebatas perekrut dan penampung dana haji yang diteruskan kerekening Fahrur Rozy.
Lebih jauh, Rudi mengatakan, tertangkapnya tersangka Fahrur Rozy di rumahnya di Surabaya juga atas bantuan Fathu Rahman, yang sejak bulan January melaporkan Fahrur Rozy atas kasus penipuan kerja dan penggelapan dana haji. Ada indikasi dana haji tersebut, terpakai oleh Fahrur Rozy untuk membeli rumah di Surabaya dan fasilitas lainnya seperti mobil Avanza.
"Kita lihat saja bagaimana pertimbangan hakim melihat itikad Fathu Rahman dan istrinya Kifayah Rahman. Dari hasil pemeriksaan keduanya, tidak ada sedikitpun unsur penipuan yang terlihat dari mereka. Kalau Fahrur Rozy pastilah sudah jelas statusnya sebagai tersangka. Itu dilandaskan atas hasil pemeriksaan, yang ditambah dengan itikadnya untuk kabur dari pengejaran polisi," kata Rudi.
Yang pasti, Rudi berjanji akan secepatnya menuntaskan kasus penipuan dan penggelapan dana 62 JCH asal Sulsel," Selain yang ada, kami masih melakukan pengembangan ke rekan Fahrur Rozy yang kini menjadi DPO," bebernya.
MAKASSAR -- Pihak Polwiltabes Makassar terus berupaya menuntaskan kasus penipuan 62 jamaah calon haji (JCH) asal Sulsel. Setelah melimpahkan berita acara pemeriksaan tersangka utama Fahrur Rozy. Kini tim penyidik Polwiltabes Makassar dalam hal ini Kanit IDIK II Polwiltabes Makassar, AKP Syaiful Alam beranjak ke Bone guna memeriksa 16 JCH yang gagal berangkat.
Informasi yang dihimpun Fajar di Polwiltabes Makassar, Sabtu 13 Desember, Kanit IDIK II Polwiltabes Makassar tersebut berangkat ke kabupaten Bone, didampingi Tiga orang anggotanya, serta Fathu Rahman Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, yang sebelumnya telah dinyatakan tersangka, namun belum ada penahanan.
Penangguhan penahanan terhadap Fathu Rahman dan istrinya Kifayah Rahman, diketahui atas pertimbangan Kepala Satuan Reserse kriminal (Kasat Reskrim) Polwiltabes Makassar, AKBP Rudi Herususanto, yang melihat keduanya kooperatif dalam memenuhi panggilan kepolisian, serta tidak melihat adanya itikad keduanya untuk menipu 62 JCH hingga gagal berangkat beribadah.
Selain itu, penangguhan penahanan keduanya didukung oleh sejumlah barang bukti, yang diperlihatkan Fathu ke tim penyidik Polwiltabes Makassar, seperti bukti transfer uang JCH atas nama Fahrur Rozy dan bukti pengembalian uang sejumlah JCH.
Kasat Reskrim Polwiltabes Makassar, Rudi Herususanto melihat, kegagalan JCH berangkat beribadah haji lebih kepada penggelapan dana haji yang dilakukan oleh tersangka Fahrur Rozy. Sedangkan status Fathu Rahman sendiri, hanya sebatas perekrut dan penampung dana haji yang diteruskan kerekening Fahrur Rozy.
Lebih jauh, Rudi mengatakan, tertangkapnya tersangka Fahrur Rozy di rumahnya di Surabaya juga atas bantuan Fathu Rahman, yang sejak bulan January melaporkan Fahrur Rozy atas kasus penipuan kerja dan penggelapan dana haji. Ada indikasi dana haji tersebut, terpakai oleh Fahrur Rozy untuk membeli rumah di Surabaya dan fasilitas lainnya seperti mobil Avanza.
"Kita lihat saja bagaimana pertimbangan hakim melihat itikad Fathu Rahman dan istrinya Kifayah Rahman. Dari hasil pemeriksaan keduanya, tidak ada sedikitpun unsur penipuan yang terlihat dari mereka. Kalau Fahrur Rozy pastilah sudah jelas statusnya sebagai tersangka. Itu dilandaskan atas hasil pemeriksaan, yang ditambah dengan itikadnya untuk kabur dari pengejaran polisi," kata Rudi.
Yang pasti, Rudi berjanji akan secepatnya menuntaskan kasus penipuan dan penggelapan dana 62 JCH asal Sulsel," Selain yang ada, kami masih melakukan pengembangan ke rekan Fahrur Rozy yang kini menjadi DPO," bebernya.
Minggu, 14 Desember 2008
Terpedo Aktif Ditemukan Nelayan di Perairan Samalona
Laporan : Mahatir Mahbub
MAKASSAR -- Sebuah terpedo aktif dengan bobot 40 kilogram ditemukan oleh seorang nelayan, Patahuddin Daeng Beta, Minggu 9 November, pukul 15.00 Wita, di perairan Pulau Samalona. Ketika ditemui di polresta Makassar Barat, Senin 10 November. Warga Rusunawa ini mengaku, menemukan terpedo yang memilki daya ledak 50-100 meter itu, saat ia mencari ikan bersama enam orang rekannya.
"Setelah melepas jala di laut pulau Samalona. Beberapa menit kemudian, saya bersama enam orang anggota kapal mencoba menarik jala. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pulau. Tiba-tiba jala saya terasa berat, dan ternyata tersangkut," kata Patahuddin.
Awalnya Patahuddin, tidak mengetahui kalau benda berukuran, panjang 1 meter dengan diameter 30 milimeter yang ditemukannya itu adalah terpedo,"Ketika saya terus mencoba menarik jala namun tidak bisa. Saya langsung lompat dari kapal dan menyelam. Ketika itu pula, saya melihat besi dengan panjang sekitar satu meter. Kemudian saya naik dan memanggil anggota untuk membantu mengangkat," ungkapnya.
Tepatnya Senin, pukul 05.00 wita, Patahuddin bersama enam anggotanya kembali ke Makassar, dan langsung melaporkan temuannya itu ke Polresta Makassar Barat. Salah seorang Tim Gegana Polda Sulselbar yang ditemui di Polresta Makassar Barat, mengatakan terpedo yang ditemukan oleh nelayan, Patahuddin masih akif dan memiliki ledakan yang besar. Namun, untuk kepemilikannya saat ini masih dalam penyelidikan,"Terpedo ini diduga buatan Jerman. Belum pasti siapa pemiliknya, karena masih dalam penyelidikan di Gegana Polda Sulselbar," kata salah seorang anggota Tim Gegana, yang tidak ingin disebutkan namanya.
MAKASSAR -- Sebuah terpedo aktif dengan bobot 40 kilogram ditemukan oleh seorang nelayan, Patahuddin Daeng Beta, Minggu 9 November, pukul 15.00 Wita, di perairan Pulau Samalona. Ketika ditemui di polresta Makassar Barat, Senin 10 November. Warga Rusunawa ini mengaku, menemukan terpedo yang memilki daya ledak 50-100 meter itu, saat ia mencari ikan bersama enam orang rekannya.
"Setelah melepas jala di laut pulau Samalona. Beberapa menit kemudian, saya bersama enam orang anggota kapal mencoba menarik jala. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pulau. Tiba-tiba jala saya terasa berat, dan ternyata tersangkut," kata Patahuddin.
Awalnya Patahuddin, tidak mengetahui kalau benda berukuran, panjang 1 meter dengan diameter 30 milimeter yang ditemukannya itu adalah terpedo,"Ketika saya terus mencoba menarik jala namun tidak bisa. Saya langsung lompat dari kapal dan menyelam. Ketika itu pula, saya melihat besi dengan panjang sekitar satu meter. Kemudian saya naik dan memanggil anggota untuk membantu mengangkat," ungkapnya.
Tepatnya Senin, pukul 05.00 wita, Patahuddin bersama enam anggotanya kembali ke Makassar, dan langsung melaporkan temuannya itu ke Polresta Makassar Barat. Salah seorang Tim Gegana Polda Sulselbar yang ditemui di Polresta Makassar Barat, mengatakan terpedo yang ditemukan oleh nelayan, Patahuddin masih akif dan memiliki ledakan yang besar. Namun, untuk kepemilikannya saat ini masih dalam penyelidikan,"Terpedo ini diduga buatan Jerman. Belum pasti siapa pemiliknya, karena masih dalam penyelidikan di Gegana Polda Sulselbar," kata salah seorang anggota Tim Gegana, yang tidak ingin disebutkan namanya.
Operasi Cipta Kondisi, Razia Ribuan Botol Miras
Laporan : Mahatir Mahbub
MAKASSAR-- Operasi cipta kondisi yang kembali digelar jajaran Polwiltabes Makassar, Sabtu pagi 15 November, berhasil merazia ribuan botol dan ratusan liter minuman keras (miras,red) berbagai jenis. Razia miras ini, merupakan tindak lanjut dari operasi preman dan operasi balapan liar beberapa waktu lalu.
Sejumlah barang bukti seperti minuman botolan jenis anggur, Bir dan topi miring. Polresta Makassar Timur merazia 76 botol, Polresta Makassar Barat 820 botol, Polresta Pelabuhan 20 botol, serta Polwiltabes Makassar 1567 botol. Sedangkan untuk jenis tuak (ballo,red) Polresta Makassar Timur 120 liter, Polresta Makassar Barat 820 liter, Polresta Pelabuhan 10 liter. Keseluruhannya berjumlah, jenis botolan 3923 botol serta 950 liter jenis ballo.
Dalam operasi miras yang digelar serentak di tiga wilayah polresta di Kota Makassar ini, polisi juga kembali menjaring sedikitnya 111 preman. Sebagian besar diantaranya terkena razia saat melakukan pesta miras. Polresta Makassar Timur 76 preman, Polresta Makassar Barat 15 preman, dan Polresta Pelabuhan 20 preman.
Kapolwiltabes Makassar, KombesPol, Burhanuddin Andi yang didampingi Kabag Operasional, AKBP Rickinaldo, di lokasi razia mengatakan, razia minuman keras yang digelar Polwiltabes Makassar ini, merupakan tindak lanjut dari operasi preman beberapa waktu lalu.
Berbagai jenis tindak kriminalitas, menurut Burhanuddin Andi, 95 % penyebabnya dari minuman keras yang dikonsumsi oleh pelaku,"Untuk itu salah satu upaya untuk meminimalisir tindak kriminal adalah, dengan memberantas penyebabnyayaitu minuman keras. Pelaku bali dan pelaku kejahatan yang saat diamankan, rata-rata sebagian besar berbau minuman keras," kata Burhanuddin Andi.
"Sebagian besar penjual miras yang terjaring ini, merupakan pemain lama. Mereka akan kami data, seperti preman dan pelaku Bali yang terjaring lalu. Kemudian mereka akan diberikan perjanjian untuk mengurus perizinan. Minuman keras yang diamankan di Polwiltabes Makassar, dan di tiga Polresta di Kota Makassar ini, juga ada yang memiliki tingkat alkohol lebh dari yang diperizinkan untuk dijual," lanjut Burhanuddin.
Dilain kesempatan, Kapolsekta Mamajang, Ajun Komisaris Polisi Kamaluddin mengatakan, Untuk wilayah Polsekta Mamajang, anggota unit khusus yang turun operasi dari pukul 07.30 Wita berhasil mengamankan ribuan liter miras jenis ballo. Miras tersebut terjaring di Jalan Tanjung Alang dan Sambung Jawa. Pelakunya tiga orang masing-masing, Daeng Maro, Daeng Rewa, serta Hatijah.
"Mereka sekarang ini kami amankan untuk memberikan efek jera. Setelah itu, mereka akan diberikan pengarahan untuk berhenti memperdagangkan minuman haram tersebut. Operasi cipta kondisi berupa razia miras ini, adalah perintah langsung dari Kapolwiltabes Makassar. Yang sebelumnya, beliau terjun langsung ke seluruh Polsekta untuk memeriksa kesiapan anggotanya," papar Kamaluddin di ruang kerjanya.
============Grafis==================
Hasil Operasi Cipta Kondisi Jajaran Polwiltabes Makassar
Minuman Keras, jenis Anggur, Bir dan Topi MiringPolresta Makassar Timur 76 botol.Polresta Makassar Barat 2260 botolPolresta Pelabuhan 20 botolPolwiltabes Makassar 1567 botol Total 3923 botol---------------------------------------------------Untuk Jenis Tuak (Ballo,red)Polresta Makassar Timur 120 LiterPolresta Makassar Barat 820 Liter Polresta Pelabuhan 10 Liter Total 950 Liter --------------------------------------------------Preman yang Terjaring Polresta Makassar Timur 76 Preman Polresta Makassa Barat 15 PremanPolresta Pelabuhan 20 Preman Total 111Preman
MAKASSAR-- Operasi cipta kondisi yang kembali digelar jajaran Polwiltabes Makassar, Sabtu pagi 15 November, berhasil merazia ribuan botol dan ratusan liter minuman keras (miras,red) berbagai jenis. Razia miras ini, merupakan tindak lanjut dari operasi preman dan operasi balapan liar beberapa waktu lalu.
Sejumlah barang bukti seperti minuman botolan jenis anggur, Bir dan topi miring. Polresta Makassar Timur merazia 76 botol, Polresta Makassar Barat 820 botol, Polresta Pelabuhan 20 botol, serta Polwiltabes Makassar 1567 botol. Sedangkan untuk jenis tuak (ballo,red) Polresta Makassar Timur 120 liter, Polresta Makassar Barat 820 liter, Polresta Pelabuhan 10 liter. Keseluruhannya berjumlah, jenis botolan 3923 botol serta 950 liter jenis ballo.
Dalam operasi miras yang digelar serentak di tiga wilayah polresta di Kota Makassar ini, polisi juga kembali menjaring sedikitnya 111 preman. Sebagian besar diantaranya terkena razia saat melakukan pesta miras. Polresta Makassar Timur 76 preman, Polresta Makassar Barat 15 preman, dan Polresta Pelabuhan 20 preman.
Kapolwiltabes Makassar, KombesPol, Burhanuddin Andi yang didampingi Kabag Operasional, AKBP Rickinaldo, di lokasi razia mengatakan, razia minuman keras yang digelar Polwiltabes Makassar ini, merupakan tindak lanjut dari operasi preman beberapa waktu lalu.
Berbagai jenis tindak kriminalitas, menurut Burhanuddin Andi, 95 % penyebabnya dari minuman keras yang dikonsumsi oleh pelaku,"Untuk itu salah satu upaya untuk meminimalisir tindak kriminal adalah, dengan memberantas penyebabnyayaitu minuman keras. Pelaku bali dan pelaku kejahatan yang saat diamankan, rata-rata sebagian besar berbau minuman keras," kata Burhanuddin Andi.
"Sebagian besar penjual miras yang terjaring ini, merupakan pemain lama. Mereka akan kami data, seperti preman dan pelaku Bali yang terjaring lalu. Kemudian mereka akan diberikan perjanjian untuk mengurus perizinan. Minuman keras yang diamankan di Polwiltabes Makassar, dan di tiga Polresta di Kota Makassar ini, juga ada yang memiliki tingkat alkohol lebh dari yang diperizinkan untuk dijual," lanjut Burhanuddin.
Dilain kesempatan, Kapolsekta Mamajang, Ajun Komisaris Polisi Kamaluddin mengatakan, Untuk wilayah Polsekta Mamajang, anggota unit khusus yang turun operasi dari pukul 07.30 Wita berhasil mengamankan ribuan liter miras jenis ballo. Miras tersebut terjaring di Jalan Tanjung Alang dan Sambung Jawa. Pelakunya tiga orang masing-masing, Daeng Maro, Daeng Rewa, serta Hatijah.
"Mereka sekarang ini kami amankan untuk memberikan efek jera. Setelah itu, mereka akan diberikan pengarahan untuk berhenti memperdagangkan minuman haram tersebut. Operasi cipta kondisi berupa razia miras ini, adalah perintah langsung dari Kapolwiltabes Makassar. Yang sebelumnya, beliau terjun langsung ke seluruh Polsekta untuk memeriksa kesiapan anggotanya," papar Kamaluddin di ruang kerjanya.
============Grafis==================
Hasil Operasi Cipta Kondisi Jajaran Polwiltabes Makassar
Minuman Keras, jenis Anggur, Bir dan Topi MiringPolresta Makassar Timur 76 botol.Polresta Makassar Barat 2260 botolPolresta Pelabuhan 20 botolPolwiltabes Makassar 1567 botol Total 3923 botol---------------------------------------------------Untuk Jenis Tuak (Ballo,red)Polresta Makassar Timur 120 LiterPolresta Makassar Barat 820 Liter Polresta Pelabuhan 10 Liter Total 950 Liter --------------------------------------------------Preman yang Terjaring Polresta Makassar Timur 76 Preman Polresta Makassa Barat 15 PremanPolresta Pelabuhan 20 Preman Total 111Preman
Mahasiswi Unismuh Ditemukan Tewas
Laporan : Mahatir Mahbub
MAKASSAR -- Mahasiswi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Irawati,21 ditemukan tewas di kamar rumahnya di Perumahan Dosen Jalan Sultan Alauddin, Jumat 21 November. Melihat keadaan korban ketika ditemukan, korban diduga dibunuh.
Korban tewas dalam keadaan terduduk di tempat tidur kamarnya, dengan leher terlilit kain gorden yang masih tergantung. Korban sendiri saat itu, bersandar di dinding jendela rumahnya yang tidak terkunci. Disekitar korban, ditemukan surat yang ditujukan ke keluarga korban. Isi surat tersebut berupa,"Antar saya, biar saya tinggal di makassar saya tidak bisa wisuda. Saya takut dengan orang tua saya".
Tidak hanya itu, ketika ditemukan di rumah yang memiliki tiga kamar tersebut, korban bersama dua rekannya yakni Ansar dan Risma. Menurut Ansar, dirinya berada di rumah itu sekitar pukul 12.00 Wita, Siang,"Setiba saya di rumah, Saya langsung masuk ke kamar bersama Risma. Sedangkan pintu saat saya datang sudah tertutup rapat," kata Ansar.
"Beberapa jam kemudian, ketika saya dan Risma bermaksud kembali ke kampus untuk kuliah. Tiba-tiba Risma berteriak melihat korban sudah tewas terlilit kain gorden," lanjutnya.
Dikesempatan lainnya di RS Bhayangkara, salah seorang rekan kuliah korban mengatakan, kalau korban baru saja putus jalinan dengan pacarnya,"Baru satu bulan lalu korban agak lain. Teman taunya korban pernah putus dengan pacarnya. Korban juga sementara ini sedang mengurus untuk wisuda bulan Januari 2009 nantinya," katanya.
Dokter Forensik RS Bhayangkara, dr Mauluddin menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan sementara, belum ditemukan tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Namun, pada alur darah dan nafas korban ada dugaan korban memberontak.
Kapolsekta Tamalate, AKP Ahmad Mariadi mengatakan, pihak kepolisian masih menyelidiki apa penyebab kematian korban,"Beberapa barang bukti seperti, surat dan kain gorden yang digunakan telah dibawah ke Polresta Makassar Timur untuk bahan penyelidikan kepolisian. Sedangkan dua rekan korban juga diarahkan ke Polresta untuk dimintai keterangan lebih lanjut," kata Ahmad yang ditemui di TKP.
MAKASSAR -- Mahasiswi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Fakultas Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Irawati,21 ditemukan tewas di kamar rumahnya di Perumahan Dosen Jalan Sultan Alauddin, Jumat 21 November. Melihat keadaan korban ketika ditemukan, korban diduga dibunuh.
Korban tewas dalam keadaan terduduk di tempat tidur kamarnya, dengan leher terlilit kain gorden yang masih tergantung. Korban sendiri saat itu, bersandar di dinding jendela rumahnya yang tidak terkunci. Disekitar korban, ditemukan surat yang ditujukan ke keluarga korban. Isi surat tersebut berupa,"Antar saya, biar saya tinggal di makassar saya tidak bisa wisuda. Saya takut dengan orang tua saya".
Tidak hanya itu, ketika ditemukan di rumah yang memiliki tiga kamar tersebut, korban bersama dua rekannya yakni Ansar dan Risma. Menurut Ansar, dirinya berada di rumah itu sekitar pukul 12.00 Wita, Siang,"Setiba saya di rumah, Saya langsung masuk ke kamar bersama Risma. Sedangkan pintu saat saya datang sudah tertutup rapat," kata Ansar.
"Beberapa jam kemudian, ketika saya dan Risma bermaksud kembali ke kampus untuk kuliah. Tiba-tiba Risma berteriak melihat korban sudah tewas terlilit kain gorden," lanjutnya.
Dikesempatan lainnya di RS Bhayangkara, salah seorang rekan kuliah korban mengatakan, kalau korban baru saja putus jalinan dengan pacarnya,"Baru satu bulan lalu korban agak lain. Teman taunya korban pernah putus dengan pacarnya. Korban juga sementara ini sedang mengurus untuk wisuda bulan Januari 2009 nantinya," katanya.
Dokter Forensik RS Bhayangkara, dr Mauluddin menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan sementara, belum ditemukan tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Namun, pada alur darah dan nafas korban ada dugaan korban memberontak.
Kapolsekta Tamalate, AKP Ahmad Mariadi mengatakan, pihak kepolisian masih menyelidiki apa penyebab kematian korban,"Beberapa barang bukti seperti, surat dan kain gorden yang digunakan telah dibawah ke Polresta Makassar Timur untuk bahan penyelidikan kepolisian. Sedangkan dua rekan korban juga diarahkan ke Polresta untuk dimintai keterangan lebih lanjut," kata Ahmad yang ditemui di TKP.
Warga Pannampu Tewas Ditikam Preman
Laporan : Mahatir
Makassar -- Kesang,42, Warga Jalan Pannampu, Kelurahan Suangga, Kecamatan Tallo, tewas ditikam dibagian dada kirinya oleh dua pemuda yang diketahui adalah preman dari Jalan Gotong Royong. Dua pemuda tersebut, yakni Saiful alias Ipul,33 dan Uk alias Onel,33. Salah seorang pelaku penikaman, Ipul sudah diamankan di Mapolsekta Tallo, sedangkan rekannya Onel masih buron.
Informasi yang dihimpun di tempat kejadian perkara (TKP), Minggu 14 Desember, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.00 Wita malam. Salah seorang saksi yang juga anak korban, Suardi mengatakan, awal terjadinya penikaman yang merenggut nyawa ayahnya itu, dipicu oleh dua pelaku yang masuk ke dalam rumah korban dan mencari Ompeng. Saat itu, kedua pelaku dalam keadaan mabuk berat.
"Kedua preman itu mencari Ompeng, adik saya. Saya tidak tahu apa masalahnya sehingga adik saya dicari, sambil berteriak-teriak di dalam rumah," kata Suardi.
Geram melihat kedua pelaku berteriak-teriak mencari adiknya, Suardi pun terlibat perkelahian dengan kedua pelaku tersebut. Mendengar ada keributan di rumahnya, Korban yang saat itu tertidur di lantai dua rumahnya itu langsung dibangunkan oleh istrinya, Hj Aisyah. Dalam keadaan panik, korban yang baru bangun langsung turun ke bawah.
Melihat perkelahian itu, korban berusaha menutup pintu. Namun pada saat akan menutup pintu korban terpeleset hingga akhirnya salah seorang pelaku langsung menikamnya. Usai menikam, kedua pelaku kemudian mencoba melarikan diri. Namun, pelaku, Ipul tertangkap oleh warga dan sempat dihakimi warga sebelum dibawa ke Polsekta Tallo.
Di depan pemeriksa, Ipul mengaku pemicu persoalan sehingga dirinya menikam korban bukanlah persoalan serius," Saat itu saya dan Onel mau pulang ke rumah. Di perjalanan Ompeng (anak korban) menabrak kaki Onel menggunakan sepeda," katanya. Setelah menabrak kaki Onel, lanjut Ipul, Ompeng kemudian lari dan masuk ke rumahnya, yang Kemudian Onel mengejar Ompeng dan disusul dirinya.
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsekta Tallo, Ipda Salim yang dikonfirmasi di TKP mengaku, belum berani memastikan motif pembunuhan ini. "Kami masih periksa secara intensif Ompeng dan Ipul. Menurut pelaku hanya masalah sepele saja," ujar Salim.
Makassar -- Kesang,42, Warga Jalan Pannampu, Kelurahan Suangga, Kecamatan Tallo, tewas ditikam dibagian dada kirinya oleh dua pemuda yang diketahui adalah preman dari Jalan Gotong Royong. Dua pemuda tersebut, yakni Saiful alias Ipul,33 dan Uk alias Onel,33. Salah seorang pelaku penikaman, Ipul sudah diamankan di Mapolsekta Tallo, sedangkan rekannya Onel masih buron.
Informasi yang dihimpun di tempat kejadian perkara (TKP), Minggu 14 Desember, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.00 Wita malam. Salah seorang saksi yang juga anak korban, Suardi mengatakan, awal terjadinya penikaman yang merenggut nyawa ayahnya itu, dipicu oleh dua pelaku yang masuk ke dalam rumah korban dan mencari Ompeng. Saat itu, kedua pelaku dalam keadaan mabuk berat.
"Kedua preman itu mencari Ompeng, adik saya. Saya tidak tahu apa masalahnya sehingga adik saya dicari, sambil berteriak-teriak di dalam rumah," kata Suardi.
Geram melihat kedua pelaku berteriak-teriak mencari adiknya, Suardi pun terlibat perkelahian dengan kedua pelaku tersebut. Mendengar ada keributan di rumahnya, Korban yang saat itu tertidur di lantai dua rumahnya itu langsung dibangunkan oleh istrinya, Hj Aisyah. Dalam keadaan panik, korban yang baru bangun langsung turun ke bawah.
Melihat perkelahian itu, korban berusaha menutup pintu. Namun pada saat akan menutup pintu korban terpeleset hingga akhirnya salah seorang pelaku langsung menikamnya. Usai menikam, kedua pelaku kemudian mencoba melarikan diri. Namun, pelaku, Ipul tertangkap oleh warga dan sempat dihakimi warga sebelum dibawa ke Polsekta Tallo.
Di depan pemeriksa, Ipul mengaku pemicu persoalan sehingga dirinya menikam korban bukanlah persoalan serius," Saat itu saya dan Onel mau pulang ke rumah. Di perjalanan Ompeng (anak korban) menabrak kaki Onel menggunakan sepeda," katanya. Setelah menabrak kaki Onel, lanjut Ipul, Ompeng kemudian lari dan masuk ke rumahnya, yang Kemudian Onel mengejar Ompeng dan disusul dirinya.
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsekta Tallo, Ipda Salim yang dikonfirmasi di TKP mengaku, belum berani memastikan motif pembunuhan ini. "Kami masih periksa secara intensif Ompeng dan Ipul. Menurut pelaku hanya masalah sepele saja," ujar Salim.
Langganan:
Postingan (Atom)