Sabtu, 22 November 2008

Pencetus Rumah Ibadah di Lapas Salemba

DI sisa hidupnya, Dominggus Bussu dan istrinya memilih "mewakafkan diri" kepada kegiataan kemanusiaan.

Laporan : Mahatir Mahbub
Mamajang

Awal masuknya di Salemba, hampir seluruh narapidana yang terlebih dahulu berada di tempat itu telah menunggunya. Bussu bagaikan santapan. Sebagian narapidana malah memegang balok dan berbagai macam senjata tajam untuk melampiaskan kepenatan di balik jeruji besi.
"Ketika itu, yang ada di kepala saya hanya Tuhan. Tapi apabila saat itu, ada seorang saja napi yang bergerak ke arah saya. Pasti saya sudah habisi. Lebih baik mati daripada berada dalam penjara selama 20 tahun," papar Bussu.
Setiap malam di penjara, Bussu mengaku, dirinya kerap menyendiri di sudut penjara. Menangis dan meratapi semua perbuatannya. Begitupun kalau pagi hari. Dirinya lebih banyak membuang waktu di menara lembaga. Melihat tingkahnya yang rajin dan patuh, kepala lembaga memilihnya menjadi ketua Blok A. Blok yang semua penghuninya adalah pembunuh.
"Di dalam blok itu berkumpul semua pembunuh dari berbagai daerah. Mulai dari Sulawesi hingga Papua. Hidup dalam lembaga di blok pembunuh nyawa terus terancam. Tapi mungkin karena mereka segan, dan mendengar dari penjaga lembaga kasus yang membuat saya meringkup di lembaga, tidak ada satupun narapidana yang mendekat," papar Dominggus Bussu, di Panti Asuhan Mulia, Jalan Singa, Selasa, 18 November.
Saat dirinya memimpin blok tersebut, hukum rimba di dalamnya berubah. Berbagai jenis kegiatan positif lebih dia nampakkan dalam memimpin anggotanya. Mulai merajut rotan menjadi kursi hingga membuat patung. Sampai-sampai Bussu mengaku kalau dirinyalah pencetus berdirinya gereja di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Salemba.
"Semuanya berubah. Kalau dulu ada narapidana baru yang masuk pasti dihabisi. Tapi sewaktu saya yang memimpin tidak ada lagi, semua berubah. Mulai makanan, kebersihan dan kedisiplinan kerja," ujar Bussu, didampingi sang istri yang juga mantan narapidana dengan kasus pembunuhan.
Istrinya Halijah, kala itu membunuh untuk mempertahankan kehormatannya. Ia nyaris diperkosa oleh kakak iparnya sendiri. Bussu sendiri adalah suami kedua Halijah setelah bercerai dengan suami pertamanya, yang bekerja sebagai guru. Dikisahkan, ketika itu, suaminya berangkat penataran di Gorontalo. Dia tinggal sendiri di rumah.
Hari-hari berlalu, kakak iparnya datang berkunjung ke rumahnya. Bukannya dengan baik, Halijah nyaris diperkosanya. Dengan terus berontak, Halijah pun kalap. Dia melihat anak kakak iparnya yang masih berumur enam tahun dan melemparnya ke sebuah batu besar di depan rumah Halijah. Anak itupun tewas seketika. Kepalanya pecah.
Karena mempertahankan kehormatannya, Halijah divonis Sepuluh tahun penjara di lembaga permasyarakatan Salemba.
Kini, Halijah dan Dominggus Bussu hidup lebih nyaman. Sehari-hari keduanya mengasuh puluhan anak yatim piatu di Panti Asuhan Mulia. Tak ada lagi kekerasan dalam kehidupan keduanya. Di sisa hidupnya, keduanya memilih "mewakafkan diri" kepada kegiataan kemanusiaan sesuai kemampuan mereka. (*)

Tidak ada komentar: